Berikan yang terbaik bagi Tuhan

--diterjemahkan bebas dari "The Lucado Life Lesson Study Bible", Max Lucado (General Editor)

Bacaan: 2 Tawarikh 2:1 - 5:1

Salomo bersiap untuk membangun Bait Allah di Yerusalem menurut rencana yang telah disiapkan oleh Daud, ayahnya. Dia hanya menggunakan kayu-kayu yang terbaik dan logam-logam berharga untuk membangun Bait Allah.

Tuhan layak untuk mendapatkan yang terbaik dari apa yang dapat kita berikan pada Tuhan. Tuhan layak atas milik kita yang terbaik, waktu kita yang paling berharga, dan harta kita.

Inspirasi
Tersimpan dalam ingatan saya tentang guru sekolah minggu yang "berbadan besar" di gereja kecil daerah Texas barat. Penampilannya sungguh tidak menarik dengan berkacamata hitam yang tidak pas di wajahnya, ada beberapa uban di rambutnya yang hitam, beraroma kurang menyenangkan, bersepatu hak rendah yang menutupi tumitnya yang besar, dan selalu tersenyum seperti anak-anak saat Natal tiba ketika melihat kami hadir di kelasnya. Tetapi, semuanya itu tidak dapat menutupi semangatnya yang menyala-nyala saat mengajar kami di sekolah minggu. Kami selalu mendapat pelukan saat datang dan saat pulang. Dia mengenal nama kami berenam dan membuat kelas kami menyenangkan sehingga kami lebih memilih melewatkan makan es krim daripada melewatkan sekolah minggu.

Berikut ini adalah alasan mengapa saya menceritakan dia. Dia menikmati saat memberi kami masing-masing kaleng yang berisi crayon dan secarik kertas yang berisi gambar Yesus yang disobek dari buku mewarnai. Kami masing-masing mempunyai sekaleng crayon, yang diambil dari tempat penyimpanan. "Ambil crayon yang saya berikan," dia memberi instruksi, "berilah warna pada gambar Yesus." Maka kami mengerjakannya.

Kami tidak memberi warna gambar diri kami sendiri, tetapi gambar Yesus, Anak Allah. Kami juga tidak mengambil crayon milik orang lain, tetapi kami memakai milik kami sendiri yang diberikan oleh guru kami. Ini yang sungguh menyenangkan: "Kerjakan yang terbaik dari apa yang kamu punyai." Tidak punya crayon warna biru di kaleng, ganti dengan warna ungu. Jika rambut Yesus diwarnai kuning, bukannya coklat, guru kami tidak marah. Dia yang mengisi kaleng-kaleng kami dengan crayon.

Dia mengajar kami untuk mewarnai gambar Yesus dengan warna kami sendiri.

Tuhan juga berbuat yang sama kepada kita. Ia yang mengisi "kaleng-kaleng crayon" milik kita masing-masing. Ia membuat kita unik, berbeda satu dengan yang lain. Tetapi, hanya dengan mengetahui bahwa Tuhanlah yang membuat kita unik, itu saja tidak cukup. Kita harus mengerti, mengapa Tuhan membuat kita unik: supaya kita dapat "memberi warna" Kristus. Memiliki pengalaman pribadi dengan Yesus, mengharumkan dan meninggikan Nama-Nya dengan apa yang sudah Tuhan berikan pada kita secara unik ... "Warnailah" Kristus dengan "crayon" yang sudah Tuhan berikan pada kita masing-masing.

Jangan habiskan waktu kita hanya untuk membangun citra kita sendiri. Bukannya untuk meremehkan/tidak sopan, tetapi, siapa yang butuh citra kita? Secara jujur, dengan hati terdalam kita: adakah orang yang tidak membutuhkan Tuhan?

Selain itu, Tuhan berjanji tidak ada penghargaan bagi yang mementingkan diri sendiri, yang hanya membangun citra bagi diri sendiri, tetapi, ada hadiah besar menanti bagi yang meninggikan, memuliakan, dan membangun citra Tuhan dalam hidupnya: "... Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia ..." (Matius 25:23).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar